Sedangkan stasiun untuk penumpang mulai dirancang oleh Arsitek Belanda Mr. Sloth Blauwboer. Setelah rancangan disetujui, upacara peletakan batu pertama pembangunan dimulai pada 29 April 1911. Jarak bakal stasiun baru tersebut kurang lebih satu kilometer arah barat dari Stasiun Samarang lama. Dalam pembangunan itu bangunan yang terletak di depan rel buntu Stasiun Samarang dibongkar untuk diteruskan ke arah Kampung Tawang. Tiga tahun kemudian stasiun baru NISM selesai dan diresmikan pada 1 Juni 1914. Sesuai nama wilayahnya, stasiun tersebut dinamakan Stasiun (Semarang) Tawang NIS. Sejak peresmian itu stasiun lama Samarang lebih dikhususkan untuk stasiun bongkar-muat barang dan Stasiun Tawang hanya melayani kereta api penumpang.

 

Stasiun_Tawang_1920_Med-copy1

Stasiun Semarang Tawang 1920-1925

Stasiun Semarang Tawang dan Kantor Dinas Kereta Api di Lawang Sewu diambilalih lebih dulu dari Kantor Pusat Kereta Api Bandung. Oleh karena itu, para pemuda dan pekerja kereta api di Semarang Tawang menyelenggarakan perjalanan Kereta Api Luar Biasa (KLB) jurusan Bandung untuk pertama kalinya. Perjalanan pada 10 September 1945 itu untuk membuktikan kepada para pimpinan Indonesia di Kantor Pusat Bandung bahwa perkeretaapian di seluruh Jawa Tengah sudah berhasil dikuasai Indonesia.

KLB kedua terjadi pada akhir bulan Oktober 1945, yaitu kedatangan Presiden Soekarno di Stasiun Tawang untuk perundingan gencatan senjata “Pertempuran Lima Hari Semarang.” Pada peristiwa pertempuran itu sendiri, awak Stasiun Tawang sigap membantu mengungsikan 15 lokomotif kiriman dari Stasiun Poncol untuk diteruskan menuju Kedungjati.

 

Stasiun-Semarang-Tawang-1

Existing Stasiun Semarang Tawang.

Stasiun-Semarang-Tawang-3_1

Ruang tunggu calon penumpang kereta api di Stasiun Semarang Tawang.

Stasiun-Semarang-Tawang-2

Suasana peron Stasiun Semarang Tawang.

Stasiun-Semarang-Tawang-4_1

Detail arsitektur Stasiun Semarang Tawang.