Jalur kereta api Jakarta-Bogor dibangun oleh perusahaan kereta api swasta Nedherlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Keberadaan jalur kereta api Jakarta-Bogor dinilai penting bagi pengangkutan komoditas ekspor dan mobilisasi politik, mengingat pada saat itu Bogor menjadi tempat kedudukan Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan pusat adiministrasi pemerintahan.

Jalur sepanjang 56 km tersebut berhasil dirampungkan pada tahun 1873. Lebar jalur yang digunakan ialah 1067 mm berbeda dengan lebar jalur Semarang-Solo-Yogyakarta yakni 1435 mm. Penggunaan lebar jalur 1067 mm guna penghematan biaya.

No

Lintas

Jarak (Km)

Tanggal Peresmian

1

Jakarta-Gambir

6

15 September 1871

2

Gambir-Jatinegara

6

16 Juni 1872

3

Jatinegara-Bogor

44

31 Januari 183

Tahap Pembangunan Jalur Kereta Api Jakarta-Bogor (Sumber: Majalah DKA, Edisi Juni 1957)

Sebagai salah satu tempat pemberhentian guna naik-turun penumpang dan barang, NISM membangun Halte Citayam. Berdasarkan jadwal kereta yang dikeluarkan NISM pada Jumat, 31 Januari 1873 terdapat empat kereta api yang berhenti di Halte Citayam. Dua kali perjalanan kereta api Jakarta-Bogor (KA no 2 & 14) serta dua kereta api perjalanan Bogor-Jakarta (KA no 7 & 17). Perjalanan dari Stasiun Jakarta ke Halte Citayam memerlukan waktu hampir dua jam, sedangkan Citayam-Bogor sekitar 45 menit.

1 Jalur KA Jakarta Bogor edit

Jalur kereta api Jakarta-Bogor ditunjukkan garis berwarna merah sedangkan letak Halte CItayam ditandai lingkaran berwarna biru, peta tahun 1913. (Sumber: Kitv.nl)

Pada tahun 1913 operasional jalur kereta api Jakarta-Bogor diambil alih oleh perusahaan kereta api negara Staatssporwegen (SS). Sehingga perjalanan kereta api Jakarta-Bandung via Bogor tidak perlu berganti kereta lagi.

Paska kemerdekaan, untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada penumpang, Djawatan Kereta Api (cikal bakal PT KAI) melakukan klasifikasi stasiun guna menentukan fasilitas dan kondisi kebutuhan pengangkutan. Melalui Surat Keputusan DDKA No. 20493/BB/54 tanggal 16 Maret 1954 ditetapkan klasifikasi stasiun menjadi 6 kelas, yakni Stasiun Besar, Stasiun Kelas 1, Stasiun Kelas 2, Stasiun Kelas 3, Stasiun Kelas 4, dan Stasiun Kelas 5. Stasiun Citayam masuk dalam kategori stasiun kelas 5.

Untuk membuat “Sistem Kereta Api Komuter Modern” di Jabotabek (Jakarta-Bogor-Tangerang-Depok) pemerintah melalui Kementerian Perhubungan bersinergi dengan Jepang menyusun rencana induk kereta api Jabotabek tahun 1981. Dalam rencana tersebut tercantum pembangunan jalur baru Depok-Bogor yang akan dimulai tahun 1986 dan rampung pada 1991. Namun pembangunan tersebut baru dapat dimulai pada tahun 1994. Meski tertunda sepuluh tahun pembangunan jalur baru Depok-Bogor berjalan sangat cepat karena dilaksanakan oleh tiga perusahaan kontraktor yakni PT Hutama Karya, PT Wijaya Karya dan PT Adhi Karya.

Sekitar tahun 1997 diresmikan jalur cabang dari Stasiun Citayam ke Stasiun Nambo. Jalur cabang ini termasuk dalam masterplan pengembangan jalur lingkar luar Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi) yang menghubungkan Stasiun Parung Panjang di bagian barat dengan Stasiun Cikarang di bagian timur. Namun akibat krisis tahun 1997 rencana ini pun ditunda.

Saat ini Stasiun Citayam (Cta) masuk ke dalam kategori Stasiun Besar B. Stasiun yang terletak di km 37+768 ini melayani perjalanan Kereta Rel Listrik (KRL) relasi Jakarta-Bogor dan kereta api barang yang menuju ke Stasiun Nambo.

Sumber :

  • Kaorinusantara.or.id
  • Kitlv.nl
  • Majalah DKA, Edisi Juni 1957
  • Pembangunan Prasarana Kereta Api di Jalur Jakarta-Bogor Tahun 1981-1996
  • Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid I
  • Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid II
  • Spoorwegstation op Java