Perusahaan kereta api Staats Spoorwegen (SS) mulai mengoperasionalkan jalan rel dengan gauge (lebar) 600 mm di Jawa Barat yaitu pada rute  Cilamaya – Cikampek (28 km, selesai dibangun tahun 1909), rute Cikampek – Wadas (16 km, selesai dibangun tahun 1912), rute Karawang – Rengasdenglok (21 km, selesai dibangun tahun 1919) dan rute Karawang – Wadas (15 km, selesai dibangun tahun 1920). Selain di Jawa Barat, SS juga mengoperasionalkan jalan rel dengan gauge 600 mm di Jawa Timur yaitu rute Rambipuji – Balung – Puger (28 km, selesai dibangun tahun 1913) dan Balung – Ambulu (12 km, selesai dibangun tahun 1913).

Untuk melayani jalan rel dengan gauge 600 mm tersebut, SS mendatangkan lokomotif uap TC10 dari pabrik Hartmann (Jerman). Lokomotif ini didatangkan secara bertahap yaitu 6 unit pada tahun 1915, 4 unit pada tahun 1920 dan 5 unit pada tahun 1922, sehingga total berjumlah 15 unit. 3 unit lokomotif TC10 dialokasikan untuk beroperasi di jalan rel dengan gauge 600 mm di Jawa Timur sementara sisanya beroperasi di jalan rel dengan gauge 600 mm di Jawa Barat.

Lokomotif ini digunakan untuk menarik kereta campuran yang terdiri dari kereta penumpang dan gerbong barang. Pada tahun 1929, jalan rel dengan gauge 600 mm pada rute Rambipuji – Balung – Puger dibongkar karena diganti dengan jalan rel gauge 1067 mm yaitu pada rute Balung – Rambipuji (12 km, selesai dibangun tahun 1929). Rute ini terhubung dengan jalan rel rute Lumajang – Kencong – Balung (42 km, selesai dibangun tahun 1928).

Lokomotif TC10 memiliki susunan roda 0-6-0T memiliki dua silinder berdimensi 240 mm X 340 mm dengan roda berdiameter 675 mm. Berat keseluruhan 12,7 ton. Lokomotif ini dapat melaju hingga kecepatan maksimum 25 km/jam. Lokomotif ini menggunakan bahan bakar kayu jati. Lokomotif TC10 juga dilengkapi dengan kotak pasir (sand box). Kotak pasir (Sand box) adalah kotak yang diisi dengan pasir yang digunakan untuk menyemprotkan pasir ke jalan rel agar permukaan jalan rel menjadi kering sehingga roda tidak slip. Lokomotif ini beroperasi di jalan rel dengan gauge 600 mm.

Seluruh jalan rel dengan gauge 600 mm ditutup pada tahun 1972 – 1973 karena tidak mampu bersaing dengan moda  transportasi darat lainnya. Jalan rel dengan gauge 600 di rute Balung – Ambulu (12 km) dibongkar dan kemudian dipindah ke Taman Mini Indonesia Indah (Jakarta). Lokomotif TC10 yang berada di Jawa Timur kemudian dipindah ke dipo lokomotif Jati (Probolinggo) dan difungsikan sebagai pemanas air. Sementara lokomotif TC10 yang berada di Jawa Barat selanjutnya mangkrak di dipo lokomotif Karawang untuk waktu yang lama.

Dari 15 unit lokomotif TC10, saat ini masih tersisa 3 unit lokomotif TC10, yaitu TC10 08, TC10 11 dan TC10 15. TC10 08 (mulai operasional tahun 1920) dipajang di depan stasiun Bandung (Jawa Barat), Jakarta. TC10 11 (mulai operasional tahun 1922) dipajang di Taman Mini Indonesia Indah (Jakarta). TC10 15 (mulai operasional tahun 1922) dipajang di dalam Balai Yasa Manggarai (Jakarta). Lokomotif TC10 08 diresmikan sebagai monumen di depan stasiun Bandung (Jawa Barat) bertepatan dengan hari ulang tahun kereta api pada tanggal 28 September 1992 oleh direktur utama Perumka (Perusahaan Umum Kereta Api) yaitu Anwar Supriyadi.