Dibangunnya jalur kereta api di Sumatra Barat tak lepas dari ditemukannya batu bara di daerah Ombilin tahun 1868 dan produksi pertamanya dimulai tahun 1892. Geliat ekonomi kota Sawahlunto saat itu bergantung pada sektor pertambangan dengan areal pertambangan seluas 16000 Ha. Dengan jumlah kandungan batubara yang cukup besar, maka diperlukaan transportasi kereta api untuk membawa batubara dari Ombilin (Sawahlunto) ke pelabuhan Telukbayur.

Pada tahun 1894, pemerintah Hindia Belanda melalui perusahaan kereta api Staatsspoorweg ter Sumatra’s Westkust (SSS) selesai membangun jalur kereta api yang menghubungkan pelabuhan Telukbayur – Padang – Padangpanjang – Muarakalaban – Sawahlunto dengan panjang 155,5 km. Karena kondisi geografis Sumatra Barat yang berbukit-bukit maka, jalur kereta api pada beberapa lokasi, misal lintas Kayu Tanam – Padangpanjang – Batu Tabal, mesti menggunakan rel bergerigi, yang berfungsi untuk membantu lokomotif untuk menanjak dengan tingkat kecuraman 8 persen.

Salah satu lokomotif yang dibeli oleh SSS adalah Lokomotif uap E10. Lokomotif uap E10 dilengkapi dengan roda gigi yang bertugas mengait rel bergerigi yang ada dibawahnya. Lokomotif ini didatangkan sejumlah 22 buah pada tahun 1921, 1926 dan 1928 dari pabrik Esslingen (Jerman) dan SLM (Swiss).

Lokomotif uap E10 mampu menarik rangkaian kereta barang batubara dengan berat muatan sampai 130 ton. Lokomotif ini memiliki panjang 10224 mm, daya 750 HP (horse power), berat 55 ton dan dapat melaju hingga kecepatan 25 km/jam. Dalam sistem Whyte Notation, lokomotif uap E10 memiliki susunan roda 0-10-0RT. 0-10-0 berarti mempunyai 5 roda penggerak serta tanpa roda idle di depan dan di belakang. Kode T berarti memiliki tangki, yang menunjukkan ini adalah sebuah lokomotif uap. Kode R, memiliki arti Reversed (artinya lokomotif ini bisa bergerak maju atau mundur dengan kekuatan dan kecepatan yang sama) dan Rack (artinya ini untuk kereta yang berjalan di rel bergerigi).

Lokomotif uap E10 menggunakan bahan bakar batu bara yang memang banyak terdapat di Kota Sawahlunto dan membutuhkan 3640 liter air untuk direbus selama 4 – 6 jam sebelum dioperasionalkan. Lokomotif ini memiliki empat silinder dengan dua silinder khusus untuk menggerakkan roda-roda giginya.

Setelah era kemerdekaan Republik Indonesia, PNKA (Perusahaan Nasional Kereta Api) kembali mendatangkan lokomotif uap E10 sejumlah 17 buah pada tahun 1964, 1966 dan 1967 dari pabrik Esslingen (Jerman) dan Nippon Sharyo (Jepang).

Pada era dieselisasi, didatangkan lokomotif diesel elektrik BB204 dari pabrik SLM (Swiss) untuk menggantikan peran lokomotif uap E10. Lokomotif BB204 didatangkan sebanyak 17 buah pada tahun 1981, 1983 dan 1984. Dari 39 lokomotif E10, saat ini tersisa dua buah yaitu E10 16 dan E10 60. Lokomotif E10 60 dibawa ke museum Ambarawa (Jawa Tengah) untuk dilakukan perbaikan sedangkan lokomotif E10 16 dipajang di Museum Transportasi, Taman Mini Indonesia Indah (Jakarta).

Pada tahun 1998, lokomotif uap E10 60 dibawa dari Sumatra Barat ke Ambarawa (Jawa Tengah) dalam kondisi rusak dan kemudian diperbaiki dan dirawat dengan teliti sehingga kondisinya pun semakin baik. Selama di Ambarawa, lokomotif uap E10 60 melayani kereta wisata rute Ambarawa – Jambu. Lokomotif ini tidak bisa menanjak ke Bedono karena gear ratio-nya tidak sesuai dengan rel bergerigi yang ada di rute Jambu – Bedono. Jika dipaksakan melalui rute Jambu – Bedono maka lokomotif uap ini dapat mengalami kerusakan.

Pada bulan Desember 2008, atas permintaan dari Pemerintah Kota Sawahlunto, lokomotif uap E10 60 kembali ke Sawahlunto (Sumatra Barat) setelah hampir 20 tahun berada di Ambarawa (Jawa Tengah). Pemerintah Kota Sawahlunto, menjadikan lokomotif uap E10 60 sebagai penarik kereta api wisata rute Sawahlunto – Muara Kalaban (7 km) untuk melengkapi wisata tambang dan wisata kota tua di Sawahlunto. Lokomotif uap E10 60 buatan pabrik Esslingen (Jerman) tahun 1966 yang dijuluki ‘Mak Itam’ ini ikut andil dalam mengangkat dan memperkenalkan Kota Sawahlunto sebagai salah satu daerah tujuan wisata sejarah.