Pembangunan jalan rel di Sumatra Utara datang dari usulan JT Cremer yakni seorang manajer di perusahaan Deli Matschappij yang menganjurkan agar jalan rel di Sumatra Utara segera dibangun dan direalisasikan mengingat pesatnya perkembangan perkebunan milik Deli Matschappij. Deli Matschapaij adalah sebuah perusahaan swasta milik pengusaha Belanda yang membawahi sekitar 75 daerah perkebunan di Sumatra Utara. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1869 dan mengembangkan komoditas tembakau hingga menjadi komoditas unggulan di Amsterdam (Belanda) dan Bremen (Jerman) mengalahkan tembakau dari Kuba dan Brasil.

Namun sarana transportasi menjadi kendala untuk membawa komoditas ini ke pelabuhan Belawan. Pelabuhan Belawan merupakan pelabuhan utama di Sumatera Utara untuk membawa hasil bumi seperti Tembakau ke luar negeri. Tentu saja untuk mengangkut hasil perkebunan ini diperlukan suatu alat angkutan yang besar ke pelabuhan yaitu kereta api.

Pada tahun 1883, Deli Matschapaij mendirikan perusahaan kereta api swasta Deli Spoorweg Matschappij (DSM) dan pada tahun yang sama, pemerintah Hindia Belanda di Batavia (Jakarta) memberikan konsesi kepada DSM untuk mulai membangun jalan rel di Sumatra Utara. Konstruksi jalan rel pertama dibangun DSM pada rute Medan – Labuhan (17 km) dan diresmikan pada tahun 1886. Pembangunan jalan rel dilanjutkan pada rute Medan – Binjai (21 km, diresmikan tahun 1887), rute Medan – Delitua (11 km, diresmikan tahun 1887), rute Labuhan – Belawan (6 km, diresmikan tahun 1888) dan rute Binjai – Selesai (11 km, diresmikan tahun 1890).

Untuk melayani rute tersebut, DSM mendatangkan 3 lokomotif uap tipe B1 yang kemudian diberi nomor DSM 3 – 5 dan mendatangkan 11 lokomotif uap tipe C yang kemudian diberi nomor DSM 6 – 16. 3 lokomotif tipe B1 didatangkan pada tahun 1884 – 1885 sedangkan 11 lokomotif tipe C didatangkan pada tahun 1886 – 1891. Semua lokomotif tersebut didatangkan dari dari pabrik Hohenzollern (Jerman).Walaupun lokomotif tipe B1dan lokomotif tipe C memiliki bentuk yang sama namun secara teknis ada sedikit perbedaan.

Dalam operasionalnya, lokomotif tipe B1 memiliki keunggulan lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar sehingga DSM memutuskan untuk mengkonversi 6 lokomotif tipe C menjadi tipe B1. Konversi lokomotif dilakukan dengan melepas poros terakhir (atau melepas poros yang menghubungkan roda kedua dan roda ketiga). 6 lokomotif tipe C yang dikonversi menjadi tipe B1 yaitu DSM 7, 10, 11, 12, 15 dan 16.

Lokomotif tipe C ini memiliki susunan roda 0-6-0T. Lokomotif ini dapat melaju hingga kecepatan maksimum 30 km/jam dan memiliki panjang 8424 mm. Berat keseluruhan 26,5 ton. Lokomotif ini menggunakan bahan bakar kayu jati.

Dari 5 lokomotif tipe C (dengan nomor DSM 6, 8, 9, 13 dan 14), pada tahun 1971 masih tersisa 1 buah yaitu DSM 14 (mulai operasional tahun 1890) yang berada di dipo lokomotif Kisaran. Tidak diketahui alasan kenapa plat nomor yang terpasang di lokomotif ini diganti dari nomor 14 menjadi nomor 22. Saat ini, DSM 22 dipajang di dalam Balai Yasa Pulubrayan, kota Medan.