Lokomotif uap seri D14 merupakan lokomotif uap yang didatangkan oleh Staats Spoorwegen (SS) yang berasal dari dua pabrikan berbeda. Lokomotif D14 bernomor 01 sampai 12 buatan, Hanomag, Hannover, Jerman, sedangkan yang bernomor 13-24 buatan Werkspoor, Belanda. Tahunnya pun berbeda, yaitu buatan tahun 1921 untuk D14 bernomor 01-12, dan tahun 1922 untuk yang bernomor 13-24. Perbedaaan lainnya ada pada nomor asli pabrikan. Yaitu nomor 9644-9655 untuk D1401-12, dan nomor 499-510 untuk D1413-14.

Desain lokomotif D14 yang ringkas ini cocok dioperasikan di lintas lokal dan jalur pegunungan. Jalur Bogor-Sukabumi-Cianjur hingga Bandung kini tinggal kenangan. Terlebih dengan ditutupnya jalur Bogor-Sukabumi pada tahun 2006. Jalur kenangan itulah yang merupakan lintasan utama lokomotif berbahan bakar batubara ini. AE Durrant dalam bukunya “Indonesian Steam Lokomotives In Action”, menampilkan foto kenangan D1413 ketika keluar dari mulut Terowongan Lampegan dari Jakarta menuju Cianjur dan Bandung.

D14 adalah tipe lokomotif bersistem superheated terkenal di jalur pegunungan untuk kereta api penumpang kelas campuran. Sesekali, lokomotif bertipe gander 2-8-2T ini juga melayani kereta langsir. Total ada 23 lokomotif D14 yang ada di Indonesia dan tersebar di dipo lokomotif :

1.   Jatinegara & Bogor Sebanyak 11 unit
2.  Cianjur Sebanyak 8 unit
3.  Purwakarta Sebanyak 3 unit
4.  Sidotopo Sebanyak 2 unit

Namun dari 24 buah lokomotif D14, pada tahun 1970, berdasarkan data PNKA Power Parade, AE Durrant menyebutkan, Perusahaan Nasional Kereta Api tersebut tinggal memiliki 23 unit D14. Jumlah itu kian menyusut, terlebih dengan kedatangan satu persatu KRL/EMU di lintasan JABOTABEK. Hingga saat ini tercatat, hanya tersisa satu lokomotif seri D14 yaitu D1410 yang saat ini menjadi benda koleksi Museum Transportasi TMII, Jakarta.