Lokomotif-BB84

Kereta api di Aceh berperan membuka keterpencilan Aceh dengan menghubungkan wilayah ini dengan Sumatra Utara serta daerah-daerah di Aceh sendiri. Kereta api di Aceh merupakan alat perjuangan seutuhnya dan beroperasi penuh sepanjang 520 km. Jalan Rel di Aceh dibangun jalan rel dengan lebar (gauge) 750 mm oleh perusahaan kereta api Atjeh Staats Spoorwegen (ASS) pada tahun 1876 – 1917. Pada awal tahun 1950, kereta api di Aceh beroperasi dengan kecepatan rendah (20 – 30 km/jam). Hal tersebut disebabkan karena merosotnya mutu sarana dan prasarana sebagai akibat dari perang. Saat itu hanya tersedia sejumlah 10 unit lokomotif uap di Langsa, sedangkan lokomotif-lokomotif uap tersebut umurnya sudah sangat tua, bahkan ada lokomotif uap yang telah beroperasi sejak tahun 1903.

Untuk mengganti lokomotif uap yang telah berumur tua di Aceh, maka DKA (Djawatan Kereta Api) mendatangkan 6 unit lokomotif uap tipe Ch2 (yang diberi nomor C71 – C76) dan 4 unit lokomotif uap tipe BB1n4v (yang diberi nomor BB81 – BB84) dari pabrik Nippon Sharyo (Jepang) pada tahun 1962. Lokomotif uap BB81 – BB84 merupakan generasi terakhir dari lokomotif tipe Mallet yang beroperasi di Indonesia.

Lokomotif C71 – C76 memiliki susunan roda 2-6-0 memiliki dua silinder berdimensi 290 mm X 460 mm dengan roda berdiameter 875 mm serta berat 17,8 ton, panjang 12575 mm dan dapat melaju hingga kecepatan maksimum 45 km/jam. Sedangkan lokomotif BB81 – BB84 memiliki susunan roda 0-4-4-2T memiliki dua silinder berdimensi 275 mm X 460 mm dengan roda berdiameter 875 mm serta berat 17,8 ton, panjang 9764 mm dan dapat melaju hingga kecepatan maksimum 35 km/jam.

Sama seperti umumnya di Indonesia (dahulu Hindia Belanda), pembangunan lintasan kereta api di Aceh, dari Banda Aceh menuju Medan, semuanya melalui berbagai kawasan perkebunan di Aceh Bagian Timur, seperti Kabupaten Sigli dan Aceh Timur.

Namun seiring perkembangan zaman, menyusul pudarnya masa kejayaan usaha perkebunan di Aceh, peran lokomotif uap mulai berkurang, sehingga operasional lokomotif uap dihentikan pada tahun 1976. Apalagi, belakangan saingan kendaraan mobil yang waktu tempuhnya lebih cepat, karena kondisi jalan yang semakin baik. Dari 4 unit lokomotif unit tipe BB1n4v (BB81 – BB84), saat ini hanya tersisa 1 unit saja, yaitu BB84. Lokomotif BB84 dipajang di kota Banda Aceh. Namun tidak ada satupun yang tersisa dari lokomotif uap tipe Ch2 (C71 – C76).