PADA masa kolonial Belanda, kereta seri CR 102 dan 103 menjadi kereta trem penumpang yang dipakai oleh perusahaan trem uap Serajoedal Stoomtram-Maatschappij. Berdasarkan aturan perkeretaapian yang ditetapkan pada saat itu, nomor seri CR yang tertera pada dinding luar kedua kereta ini menerangkan bahwa kereta CR 102 dan 103 adalah kereta untuk penumpang kelas 3 (Kelas Ekonomi). Kode C berarti angkutan penumpang kelas 3 (3e Klasse Rijtuig). Sedangkan kode R berarti kereta ini memakai jenis rem yang dioperasikan manual dengan tangan. Letak rem berada di salah satu ujung tengah kereta di dekat bordes (tangga untuk naik-turun). Biasanya dalam tiap perjalanan ada petugas yang bersiaga memutar keran untuk melepas dan mengikat rem.

 

Kereta CR 102

Kereta CR 102, Lokasi Museum Transportasi TMII.

 

Tidak seperti kereta api, kecepatan rangkaian trem dibatasi. Oleh karena itu pemakaian rem manual di tiap ujung kereta menjadi pilihan terbaik karena harga pembelian kereta lebih murah. Karena kecepatan lambat, beroperasi di lintas datar, material dari kayu, bobot lebih ringan, maka dalam satu rangkaian trem yang terdiri dari 2 sampai 4 kereta, pengeremannya masih bisa dioperasikan oleh 1 orang juru rem selain dari rem lokomotif uap yang dioperasikan masinis. Karena sifatnya ringan dan berkecepatan rendah tadi, umumnya bogie (rangka roda) kereta trem seri CR hanya terdiri dari 1 gandar (2 roda). Dengan kata lain, dalam 1 kereta terdapat 2 gandar (4 roda) saja.

 

Kereta CR 103

Kereta CR 103, Lokasi Museum Transportasi TMII.

 

Saat ini status kepemilikan kereta CR 102 dan 103 menjadi aset bersejarah dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero) yang dititipkan di Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah. Kedua kereta tersebut juga merupakan satu-satunya peninggalan kereta trem penumpang eks SDS yang masih tersisa hingga kini.***